Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2019

Mapping dan Database Startup Indonesia 2018: Startup Tumbuh Subur, Indonesia Butuh Data Akurat

    22.31   No comments
ilustrasi
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), pengguna internet mencapai 143 juta orang di tahun 2017 lalu. Angka ini jelas menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tengah menikmati perkembangan teknologi digital, termasuk pertumbuhan industri digital secara pesat di beberapa tahun terakhir. Salah satu indikasi geliat tersebut adalah keberadaan empat digital berstatus unicorn di tanah air, terbanyak di Asia Tenggara. Yang bahkan secara total hanya memiliki tujuh unicorn, termasuk empat dari Indonesia, yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan untuk terus mendorong laju positif industri digital nasional ini. Presiden Joko Widodo menyatakannya dalam sebuah visi menjadikan Indonesia sebagai The Digital Energy of Asia. Pemerintah misalnya meluncurkan kebijakan-kebijakan terkait e-Commerce dan industri 4.0, serta berbagai program, seperti BEKRAF for Pre-Startup, 1.000 Startup, BEKRAF Developer Day, UKM Go Online, Pendanaan Startup, dan lain-lain. Selain pemerintah, pemangkukepentingan lain pun turut berinisiatif untuk mendukung pengembangan startup di Indonesia, beragam program diselenggarakan BUMN, swasta nasional dan multinational company, perguruan tinggi, hingga asosiasi dan komunitas.

Indonesia boleh bangga, lantaran pertumbuhan startup di Indonesia dianggap sangat pesat. Jadi sebuah tren di kalangan milenial saat ini untuk “Berkolaborasi membangun startup”. Jika sebelumnya kebanyakan sarjana yang baru diwisuda lebih suka mengunjungi situs-situs penyedia informasi lowongan kerja, kini mereka lebih memilih untuk membangun startup sebelum lulus kuliah. Tren inilah yang membuat pertumbuhan startup di Indonesia menjadi terlihat begitu berkembang. Namun, jika ditanyakan berapa jumlah sejatinya startup di Indonesia, niscaya tidak ada yang bisa menyebutkan angkanya dengan akurat atau minimal dibuktikan dengan data yang ada. Ini persoalan. Karena dibalik klaim pertumbuhan starup yang meningkat, ternyata tidak ada yang memiliki data yang akurat terkait jumlah startup di Indonesia.

Menurut Ketua Umum MIKTI, Joddy Hernady, saat ini belum ada acuan yang valid terkait data startup di Indonesia, kalaupun ada data yang beredar dan banyak dijadikan referensi sebenarnya masih belum valid.

“Kami menemukan fakta bahwa belum ada acuan valid mengenai data startup di Indonesia, memang ada beberapa referensi yang kerap digunakan untuk merujuk jumlah startup di Indonesia, namun setelah diteliti lebih lanjut ternyata sangat tidak valid,” papar Joddy.

Bukan “pepesan kosong” apa yang dikatakan oleh Joddy telah dibuktikan oleh Teknopreneur. Kami mencoba memverifikasi data yang disajikan oleh sebuah website yang disebut-sebut sebagai referensi jumlah startup di Indonesia, alhasil kami harus merasa kecewa. Alih-alih data startup, kami menemukan berbagai jenis usaha konvensional dan bahkan blog pribadi yang disebut sebagai web berita. Banyak dari—yang disebut sebagai –startup yang ada di website tersebut ternyata tidak memiliki informasi yang jelas baik alamat website resmi maupun alamat kantor.

Dari titik inilah kemudian Teknopreneur bersama MIKTI berinisiatif untuk melakukan pengumpulan data startup di Indonesia yang melibatkan beberapa komunitas startup. Terkumpul data 992 startup di seluruh Indonesia dengan berbagai bidang usaha yang telah terverifikasi baik domisili, data founder, hingga kontak yang bisa dihubungi. Tidak berhenti sampai di situ, kami juga melakukan survey yang melibatkan startup-startup yang ada di dalam database untuk mengetahui kondisi real yang mereka alami selama ini.

Dari survey tersebut, kami menemukan bahwa saat ini ada 992 startup di seluruh Indonesia yang telah terverifikasi oleh Teknopreneur. Mayoritas startup di Indonesia bergerak di bidang e-Commerce, ada sekitar 35,48% startup yang bergerak di bidang e-Commerce, sementara sisanya tidak sampai 10 persen terkecuali pada kelompok lainnya yang mencakup IoT, software house, animasi, dll yang mencapai angka 53,63%. Ini sejalan dengan perilaku pengguna internet di Indonesia yang memang sedang menggandrungi belanja online terlebih dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan industri UKM yang membuat beraneka ragam produk yang bisa didapatkan dengan mudah lewat layanan e-Commerce. Dunia pendidikan adalah bidang yang terbesar kedua setelah e-Commerce. Berbagai aplikasi, software dan jasa pendidikan online memang mulai tumbuh dan menarik minat masyarakat. Penyedia jasa guru les atau aplikasi belajar online mempermudah masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tambahan—selain pendidikan formal di sekolah—bagi keluarga. Sementara startup pariwisata seperti travel agent, pesan hotel, sampai tour organizer menduduki peringkat ketiga terbanyak. Bukan hanya membeli tiket secara online dan memesan kamar hotel, saat ini sudah banyak juga layanan yang menyediakan pemesanan tiket atraksi wisata. Selain meningkatnya angka kunjungan wisata, kesadaran pemerintah untuk mengembangkan industri pariwisata juga membuat bidang ini menjadi sangat menarik bagi para pelaku startup. (sumber)

Perumahan Islami | Bisnis Bakrie | Bisnis Kalla | Rancang Ulang | Bisnis Khairul Tanjung | Chow Kit | Pengusaha | Ayo Buka Toko | Wisata | Medco

Selasa, 20 Desember 2016

Media Online Terpopuler Paska #SuperDamai212 #Spirit212

    13.17   No comments
Beberapa media di Indonesia naik peringkat cukup tajam setelah aksi #SuperDamai212.

Media-media tersebut sangat intens memberitakan bola salju yang terus bergelinding khususnya dalam memberitakan kesadaran publik dalam menggali potensi ekonomi rakyat.

Dalam #Spirit212 beberapa model bisnis sudah didirikan seperti Bank 212, Minimarket, Pabrik Roti dan lain sebagainya.

Berikut adalah beberapa media yang meroket tajam sesuai dengan ranking alexa.com

1. Posmetro.com




Dilihat dari grafisnya, media ini langsung meroket dari 0 ke peringkat 385.

Diketahui bahwa peringkat tersebut mencakup semua situs termasuk e-commerce. Bila dipilah-pilah angka tersebut akan bisa lebih keci.

2. Beritaislam24h.net, peringkat 609

3. Portalpiyungan.co peringkat 510

4. Hidayatullah.com, peringkat 801

5. Tarbawia.com, peringkat 606

Lihat video lainnya di sini

Perumahan Islami | Bisnis Bakrie | Bisnis Kalla | Rancang Ulang | Bisnis Khairul Tanjung | Chow Kit | Pengusaha | Ayo Buka Toko | Wisata | Medco

Kamis, 04 Maret 2010

AXIS is owned 51% by Saudi Telecom Company (STC)

    08.05   No comments
AXIS is a brand identity of PT Natrindo Telepon Seluler (NTS), operating a national GSM and 3G cellular operator in Indonesia.AXIS launched in February 2008 and is already available in over 160 cities across East Java, West Java, Jabodetabek, Banten, West Java, Bali, Lombok, North Sumatera, Riau Islands, Riau Mainland, and West Sumatera with more launching soon. AXIS’ vision is to provide affordable communications to all Indonesians and offer 2G and 3G services.

AXIS is owned by Saudi Telecom Company (STC), the no. 1 GSM operator in Saudi Arabia, and by Maxis Communications, the no. 1 GSM operator in Malaysia. Together, these companies serve more than 45 million customers with operations in 9 countries.

Jumat, 26 Februari 2010

Pengalaman Membuka Toko

    10.15   No comments
Setelah sebelumnya berfokus pada usaha yang bersifat business to business (B2B) saya tertarik juga untuk mencoba masuk ke bidang usaha yang memungkinkan saya bertemu dengan end user/business to customer (b2c).

Keinginan ini dilatarbelakangi oleh kejenuhan melayani konsumen korporat yang terkadang diwarnai oleh birokrasi yang berbelit, persaingan dengan kompetitor yang melakukan lobi kurang etis dan politik bisnis lainnya.

Awalnya saya pikir bahwa melayani konsumen perorangan akan lebih menyenangkan karena mereka cenderung jujur akan apa yang mereka harapkan dari sebuah produk/layanan. Berbekal pemikiran tersebut dan tantangan untuk memulai jenis usaha baru akhirnya sekitar sebulan yang lalu saya memutuskan untuk membuka sebuah toko yang menjual berbagai koleksi produk unik dan berkualitas.

Untuk mempromosikan toko ini kami juga rajin mengikuti berbagai bazaar dan pameran. Di samping memperkenalkan toko sekaligus juga untuk mengedukasi pasar mengenai beberapa produk yang kami jual. Maklum beberapa produk memang menyasar segmen premium dan masih asing bagi konsumen di kota Salatiga sehingga perlu edukasi mengenai manfaat dan keunggulannya.

Konsep toko yang saya buka ini adalah toko yang menyediakan berbagai produk unik, eksklusif, berkualitas namun harganya juga cukup terjangkau. Untuk memenuhi syarat harga terjangkau akhirnya saya memutuskan untuk memotong margin dan mengurangi biaya operasional. Agar biaya operasional dapat ditekan maka ketimbang menyewa sebuah toko berukuran besar saya memilih yang berukuran lebh kecil namun didesain sedemikian rupa sehingga tetap tampak menarik, selain itu seluruh barang yang dijual harus berasal dari produsen langsung tanpa perantara sehingga harga jualnya juga bisa ditekan.

Ternyata setelah satu bulan toko ini beroperasi begitu banyak pengalaman dan kejadian yang saya pelajari. Dimana pelajaran ini mengubah pemikiran saya sebelumnya bahwa mengelola konsumen perorangan akan lebih mudah ketimbang konsumen korporat.

Jika semula saya bayangkan bahwa dengan produk yang berkualitas, layanan yang ramah dan harga yang terjangkau sudah cukup untuk memberikan kepuasan bagi konsumen ternyata tidak demikian kenyataannya.

Hari pertama toko dibuka datanglah tetangga tempat toko tersebut berada, setelah mengobrol dan melihat-lihat akhirnya sang tetangga ini membeli sebuah sandal anak dan minta potongan harga. Kebetulan memang selama masa promo 1 bulan kami memberi potongan harga 10% all item.

Ternyata tetangga saya ini masih menawar katanya minta harga khusus sebagai tetangga, akhirnya saya memberikan potongan lagi. Harga jual produk tersebut adalah Rp 25.000,-. Saya beli dari produsen ditambah ongkos kirim harganya Rp 20.000 jika dipotong diskon 10% maka keuntungan yang saya peroleh selama masa promosi semestinya adalah Rp 2.500,-, namun karena tetangga saya ini terus mendesak akhirnya saya relakan juga keuntungan Rp 2.500,- itu sehingga sekedar balik modal saja tentu saya pesan supaya tidak bercerita ke orang lain
mengenai harga super istimewa yang saya berikan itu. Saya pikir tidak apa-apa hitung-hitung menjaga hubungan baik dengan tetangga dan siapa tahu dipromosikan ke kenalannya.

Benar juga hari berikutnya tetangga saya ini benar-benar mempromosikan ke saudara-saudaranya sehingga hari itu mereka beramai-ramai ke toko, bayangkan di hari kedua sudah seramai itu. Untungkah saya? Oopss…tidak seindah itu, ternyata mereka semua meminta harga yang sama seperti yang saya berikan ke tetangga saya di hari sebelumnya. Bayangkan!!! Setelah tawar menawar macam di pasar tradisional akhirnya saya rela menerima keuntungan hanya Rp 1.000,- per item. Padahal saya masih harus membayar sewa tempat, listrik, kebersihan, gaji pegawai dan biaya operasional lainnya. Sudah pasti angkanya minus jika dihitung.
Yah sudahlah saya relakan lagi dan anggap saja sebagai biaya promosi namun tentu kali ini saya benar-benar menekankan untuk tidak menceritakan harga itu ke orang lain lagi.

Ternyata masalahnya tidak selesai sampai disitu, selang seminggu kemudian tiga dari tujuh pembeli dengan harga super istimewa ini kembali untuk menukarkan sandal tersebut dengan alasan terlalu kecil untuk anaknya (waktu membeli anaknya memang tidak diajak). Datang bersamaan dengan nada sok kuasa mereka menuntut penukaran ukuran seolah-olah kami yang salah, padahal ketika memilih ukuran kami sama sekali tidak memberikan saran karena memang anak-anaknya tidak diajak sehingga tidak bisa diperkirakan ukurannya. Daripada ribut-ribut akhirnya saya putuskan untuk menerima meski barang yang dikembalikan packing-nya sudah tidak rapi, sticker nomor ukuran yang ada juga sudah tidak ada sehingga menyulitkan untuk dijual kembali (akhirnya barang-barang tersebut juga tidak saya jual).

Konsumen lain juga tak jauh berbeda perilakunya terutama menyangkut harga. Toko kami menjual sepatu wanita yang dijual seharga Rp 85.000 sesuai harga eceran terendah produsen, tidak sedikit yang datang ke toko maupun stand kami saat bazaar dan pameran untuk menawar dengan harga yang tidak masuk akal. Saya ingat seorang Ibu yang menawar dengan sinis untuk mendapat harga Rp 30.000,-, bahkan katanya akan membeli dua pasang jika boleh membeli dengan harga itu, dengan berusaha tetap ramah saya menjelaskan bahwa harga kulaknya saja jauh di atas harga yang diminta oleh si Ibu. Dalam hati saya berpikir jangankan dua pasang, saya yang membeli berlusin-lusin langsung dari produsen pun harganya jauh di atas itu.

Perilaku konsumen terkait harga memang sering tidak masuk akal. Kebetulan selain membuka toko saya juga mengirim beberapa barang yang sama untuk toko-toko lain baik di kota Salatiga maupun sekitarnya. Beberapa toko meski menawarkan discount menjual dengan harga yang jauh lebih tinggi ketimbang harga jual di toko saya namun pembelinya juga tidak menawar dan bersedia mengeluarkan uang sebesar itu untuk produk yang sama.

Ketika mengikuti bazaar beberapa waktu lalu seorang calon pembeli melihat-lihat sebuah produk dan menanyakan harganya. Kebetulan harga produk tersebut di tempat kami Rp 35.000,- kemudian calon pembeli ini menunjukkan produk yang sama yang katanya dibeli di “mall X” di “kota y” dengan harga Rp 45.000,- namun menurutnya kualitasnya lebih halus ketimbang barang yang saya jual. Dalam hati saya sedikit geli karena toko yang dia maksudkan ini juga mengambil barang dari saya hanya saja kemasannya dibuat sendiri. Tentu saja fakta ini tidak saya ceritakan pada konsumen tersebut karena bagaimanapun pemilik toko yang dimaksud adalah customer saya

Ada lagi perilaku unik dari konsumen ketika berkunjung di toko kami, setelah menawar setengah memaksa akhirnya dengan wajah kesal konsumen tersebut meninggalkan toko karena harga yang diminta tidak mungkin kami penuhi. Ternyata selang beberapa menit kemudian sang konsumen kembali untuk membeli barang dengan harga sesuai label. Kejadian ini juga pernah terjadi di sebuah bazaar yang kami ikuti. Saya hanya berpikir jangan-jangan yang diharapkan seperti tawar menawar di pasar yang kadang jika tidak terjadi kesepakatan kemudian ditinggal pergi konsumen berharap bahwa si penjual akan menerima harga yang diminta oleh pembeli. Tentu saja hal ini tidak mungkin terjadi mengingat margin kami memang sudah tipis, bahkan ketika di acara bazaar seringkali kami hanya mengejar balik modal karena tujuan utamanya adalah promosi dan edukasi.

Pengalaman-pengalaman tersebut mengingatkan saya pada salah seorang profesor yang mengajar ketika saya kuliah S2. Beliau selalu menyebutkan bahwa dalam dunia pemasaran yang paling penting adalah memenangkan persepsi konsumen, betapapun berkualitasnya produk yang dijual dan berapapun harga yang diberikan tidak akan berarti jika kita gagal memenangkan persepsi konsumen. Sebaliknya ketika kita berhasil memenangkan persepsinya maka harga yang kita berikan tidak akan menjadi masalah.

Fakta di lapangan sudah membuktikan kata-kata tersebut. Beberapa toko yang saya supply dan menjual dengan harga dua bahkan tiga kali lipat lebih mahal dari harga jual di toko saya adalah toko-toko yang besar dan lokasinya strategis (di pusat keramaian atau di dalam mall). Dengan demikian setidaknya dari pengalaman saya terbukti juga bahwa segmenting, targeting, positioning yang dikombinasi dengan product, price, place dan promotion memang tidak dapat dikesampingkan dalam pemasaran.

Jadi keputusan saya untuk menghemat biaya operasional dengan memilih tempat yang lebih kecil agar bisa menekan harga rupanya tidak cukup efektif untuk memenangkan pelanggan. Bukan hanya itu melayani konsumen perorangan ternyata jauh lebih memusingkan ketimbang melayani korporat, setidaknya demikian menurut saya.

Meski demikian tidak setiap konsumen sulit untuk dilayani, konsumen yang memang segmennya sesuai dengan target yang kami bidik justru tidak serewel itu. Penjelasan mengenai manfaat dan keunggulan produk disertai pelayanan yang baik sudah cukup bagi mereka. Masalahnya seringkali masih banyak konsumen yang “nyasar”, artinya mereka yang sebenarnya bukan segmen yang dibidik namun datang ke toko. Bagaimana mengatasinya sementara toko sudah beroperasi? Saya masih mencoba menemukan jawabnya…

Selasa, 26 Februari 2008

INGIN MEMBUKA TOKO

    10.23   1 comment
Oleh: Ahmad Gozali

Dikutip dari Harian Republika, Mei 2007

Assalamualaikum wr wb

Saya ibu rumah tangga yang ingin punya usaha untuk menambah kegiatan dan penghasilan tentunya. Saya berniat untuk membuka toko. Tadinya sih untuk gampangnya saya dan suami ingin mengambil franchise saja, tapi setelah dihitung-hitung terlalu berat karena paling tidak kita harus punya modal dua kali lipat dari yang disyaratkan. Saya inginnya membuka toko kosmetik dan perawatan tubuh. Berhubung saya masih awam sekali masalah ini, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan:

* Kira-kira, apa saja yang harus saya persiapkan?
* Izin apa saja yang harus saya urus?
* Apa bedanya membuka toko di mal dengan di ruko?
* Bagaimana dengan pegawai, masalah penggajian dan shift mereka?
* Di mana saya bisa mendapatkan distributor/supplier barang-barang yang saya butuhkan?

Mohon bantuan dan penjelasannya. Terima kasih banyak sebelumnya.

Wati, Yogyakarta


Jawaban:

Waalaikumssalam wr wb

Bu Wati,
Membuka usaha dengan sistem franchise dan membangun sendiri memang ada bedanya. Sistem franchise biasanya memang modalnya berlipat dibandingkan usaha biasa. Namun, keunggulannya juga cukup banyak antara lain sudah mempunyai sistem yang teruji dan tingkat kegagalannya kecil. Di samping itu juga akan di-support oleh franchisor dalam hal pemasaran dan bantuan konsultasi.

Tetapi bila modal terbatas, tidak ada salahnya membangun usaha dengan brand/merek sendiri. Cara ini membutuhkan perjuangan lebih banyak dibandingkan sistem franchise. Tetapi bila suatu saat bisa berhasil maka akan menciptakan kepuasan tersendiri bagi Anda. Bahkan tantangan ke depan, usaha Anda ini bisa di-franchise-kan setelah memiliki sistem yang kuat dan terbukti berhasil.

Untuk membuka toko kosmetik dan perawatan tubuh ada beberapa hal yang perlu Anda siapkan:

1. Lokasi usaha yang strategis
Usahakan mendapat tempat yang ramai dan transportasinya mudah dijangkau. Bedanya membuka usaha di mal dan ruko, tentunya kalau mal lebih ramai dan lebih banyak didatangi pengunjung tetapi sewanya lebih mahal dari ruko. Biaya sewa ruko biasanya memang lebih murah tetapi Anda harus menerapkan promosi yang lebih kuat untuk menarik pengunjung.

2. Perizinan
Tidak diperlukan izin khusus untuk usaha toko kosmetik, hanya izin usaha saja seperti toko yang lainnya. Bila Anda sudah memiliki modal yang cukup, tidak ada salahnya langsung mengurus perizinan usaha sekaligus badan hukum ke notaris. Tetapi bila belum memungkinkan, jalankan dulu usaha Anda. Bila sudah berkembang baru mengurus perizinan sambil berjalan.

3. Modal
Modal yang perlu disiapkan meliputi modal investasi awal seperti biaya sewa tempat, inventaris peralatan toko seperti etalase, kursi, meja, komputer, dan lain-lain. Berikutnya adalah modal kerja untuk pembelian bahan baku toko Anda seperti peralatan kosmetik dan perawatan tubuh yang diperlukan. Komponen berikutnya adalah modal operasional untuk menggaji pegawai, biaya listrik, kas kecil, dan lain-lain. Untuk modal kerja dan modal operasional sebaiknya disiapkan minimal tiga bulan karena di awal usaha biasanya belum memberikan keuntungan.

4. Karyawan
Karyawan toko umumnya menggunakan sistem gaji karena mungkin tidak diperlukan keahlian khusus untuk bekerja di toko Anda. Pelatihan yang diberikan mungkin seputar pengenalan produk yang dijual beserta fungsinya serta bagaimana melayani pelanggan yang datang. Untuk gaji, minimal sesuai dengan Upah Minimum Propinsi, tetapi seiring dengan membesarnya omzet Anda, tidak ada salahnya nanti memberikan tambahan bonus terutama apabila bisa mencapai target penjualan yang Anda tetapkan.

Bila usaha Anda sampai malam hari, bisa diterapkan sistem shift/gantian jaga. Tetapi tawarkan dulu pada penjaga toko Anda bahwa kemungkinan bisa dilakukan sistem lembur. Jadi, tidak menggunakan sistem shift karena menerapkan tambahan jam kerja bagi pegawai toko Anda dengan kompensasi tambahan.

5. Untuk mendapatkan distributor/supplier barang yang Anda butuhkan, saya rasa sekarang banyak sekali yang menawarkan. Cara paling mudah tentunya adalah dengan berkonsultasi kepada pengusaha yang sudah menjalankan usaha ini. Atau cobalah Anda cari di majalah bisnis, atau beberapa situs bisnis di internet, atau mesin pencari di internet.

Demikian, semoga bisa membantu Anda. Jangan segan untuk menghubungi kami kembali bila masih ada permasalahan yang dijumpai.

Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan


kembali

Peta Situs | Berita Terbaru | Surat | Hubungi Kami
Undang Kami | Kamus Keuangan | Referensi


© 2000 Safir Senduk & Rekan

Ekonomi Kecil

TOBAPOS

Recent Posts

Berita DEKHO

© 2014 Ayo Buka Toko. Designed by Bloggertheme9
Proudly Powered by Blogger.